Konsep Dasar Administrasi pendidikan dalam MPMBS


                                                               

A. Pengertian Administrasi
Kata “administrasi” berasal dari bahasa latin yang terdiri atas kata ad dan ministrare. Kata ad mempunyai arti yang sama dengan kata “to” dalam bahasa inggris, yang berarti “ke” atau “kepada”. Dan ministrare sama artinya dengan kata to serve atau to conduct yang berarti “melayani”, “membantu”, atau mengarahkan”. Dalam bahasa inggris to administer berarti pula “mengatur”, “memelihara” (to look after), dan “mengarahkan”.[1]
Jadi, kata “administrasi” dapat diartikan sebagai suatu kegiatan atau usaha untuk membantu, melayani, mengarahkan, atau mengatur semua kegiatan di dalam mencapai suatu tujuan. Sedangkan Administrasi pendidikan diartikan sebagai segala proses pengerahan dan pengintegrasian segala sesuatu, baik personel, spiritual maupun material, yang bersangkut paut dengan pencapaian tujuan pendidikan. Artinya dalam proses administrasi pendidikan segenap usaha orang-orang yang terlibat di dalam proses pencapaian tujuan pendidikan itu diintegrasikan, diorganisasi dan dikoordinasi secara efektif, dan semua materi yang diperlukan. Atau administrasi pendidikan diartikan sebagai suatu proses pengintegrasian segala usaha pendayagunaan sumber-sumber personalia dan material sebagai usaha untuk meningkatan secara efektif pengembangan kualitas manusia[2]
Berikut ini adalah beberapa pengertian administrasi menurut para tokoh sebagai berikut:
1.      William H. Newman(1951) mengatakan bahwa administrasi dapat dipahami sebagai pembimbingan, kepemimpian, dan pengawasan usaha-usaha suatu kelompok orang-orang kearah pencapaian tujuan bersama.
2.      Henry Fayol (1929) bahwa administrasi adalah fungsi dalam organisasi niaga yang unsur-unsurnya adalah perencanaan, pengorganisasian, pemberian perintah, pebgkoordinasi, dan pengawasan.[3]
Dalam arti luas administrasi diartikan sebagai proses meliputi perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, dan pengendalian sumber daya organisasi. Dalam arti sempit, administrasi disebut juga sebagai administrasi sekolah atau ketatausahaan sekolah. Petugasnya disebut sebagai tenaga administrasi sekolah.
Administrasi sekolah meliputi 12 hal, yaitu sebagai berikut : 1) administrasi persuratan dan kearsipan (kesekretariatan), 2) administrasi pendidik dan tenaga kependidikan 3) administrasi kesiswaan 4) administrasi keuangan (termasuk RAPBS dan perpajakan) dan standarnya 5) administrasi isi dan standarnya 6) administrasi proses dan standarnya 7) standar kompetensi lulusan 8) administrasi sarpras dan standarnya 9) administrasi kehumasan dan kerja sama 10) administrasi standar pengelolaan (termasuk implementasi MBS) dan standarnya 11) administrasi standar penilaian pendidikan 12) administrasi unit produksi sekolah (untuk SMK dan MAK).[4]

C. Prinsip-Prinsip Administrasi Pendidikan
Prinsip merupakan sesuatu yang dibuat sebagai pegangan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Berikut ini merupakan prinsip dasar yang perlu diperhatikan agar administrator dapat mencapai sukses dalam tugasnya, yaitu :
1.      Prinsip Efisiensi
2.      Prinsip Pengelolaan
3.      Prinsip Pengutamaan Tugas Pengelolaan
4.      Prinsip Kepemimpinan yang Efektif
5.      Prinsip Kerjasama[5]

Administrasi Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah
Administrasi pendidikan itu mencakup kegiatan-kegiatan yang luas, yang meliputi kegiatan perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, pengawasan, yang menyangkut bidang-bidang materil, personel dan spiritual dalam bidang pendidikan pada umumnya, dan khususnya pendidikan yang diselenggarakan di sekolah-sekolah.[6] Tujuan administrasi pendidikan di sekolah adalah mempersiapkan situasi di sekolah, agar pendidikan dan pengajaran berlangsung baik, sehingga tercapai tujuan khusus sekolah tersebut.
Peningkatan mutu pendidikan di sekolah atau Madrasah perlu didukung oleh kemampuan manajerial para kepala sekolah. Diantaranya adalah dengan cara menciptakan hubungan baik antar guru agar terjalin suasana kerja yang kondusif dan menyenangkan, membina penataan penampilan fisik agar sekolah menjadi lingkungan pendidikan yang dapat menumbuhkan kreativitas, disiplin dan semangat belajar peserta didik, memiliki pengetahuan kepemimpinan, perencanaan dan pandangan yang luas tentang sekolah dan pendidikan.[7] Dan juga para guru harus berkreasi dan meningkatkan manajemen kelas dengan menyiapkan dirinya dengan segala kewajiban baik manajemen maupun persiapan isi materi pengajaran, mengatur jadwal pelajaran, pembagian tugas peserta didik, kebersihan, keindahan, dan ketertiban kelas, pengaturan tempat duduk, penempatan alat-alat dan lain-lain.[8]
Implementasi MPMBS  akan berlangsung secara efektif dan efisien apabila didukung oleh SDM yang profesional untuk mengoperasikan sekolah, adanya dana yang cukup agar sekolah mampu menggaji staf sesuai dengan fungsinya, pengelolaan keuangan, terutama pengelokasian/ penggunaan uang sudah sepantasnya dilakukan oleh sekolah. Hal ini juga didasari dengan kenyataan bahwa sekolahlah yang paling memahami kebutuhannya sehingga desentralisasi pengalokasian/ penggunaan uang sudah seharusnya dilimpihkan ke sekolah. Sekolah juga harus diberi kebebasan untuk melakukan “kegiatan-kegiatan yang mendatangkan penghasilan” (income generating activities), sehingga sumber keuangan tidak semata-mata tergantung pada pemerintah. Adanya sarana dan prasarana yang memadai untuk mendukung proses belajar mengajar, serta adanya dukungan masyarakat,dan orang tua yang tinggi.
D.  Model Proses Pembaharuan dalam Administrasi Sekolah
Berikut ini disajikan model proses pengembangan inovasi dalam bidang administrasi pendidikan. Proses ini diawali dengan adannya masalah/ kebutuhan dan diakhiri dengan konsekuensi. Namun demikian, sesungguhnya proses inovasi merupakan suatu siklus, sehingga tidak pernah selesai sepanjang ada kebutuhan baru.
Strategi inovasi administrasi sekolah (Rogers 1983)[9]
Kebutuhan/
masalah
penelitian
pengembangan
Difusi/adopsi
Konsekuensi
Produktivitas rendah
Kebijakan menyeluruh
Aplikasi kebijakan
Guru dan siswa
Mengubah tradisi kerja
Sistem administrasi akademik efisien
Terapan pada unit terbatas
Ke semua unit administrasi akademik
Petugas administrasi akademik
Pengadaan perangkat keras dan lunak
Supervisi kepala sekolah belum berjalan baik
Kebijakan eksperimen di tingkat sekolah atau wilayah
Ke semua sekolah/ wilayah
Kepala sekolah
Delegasi sebagian tugas administrasi


E. MBS Sebagai Manajemen Peningkatan Mutu
Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah (MPMBS) merupakan alternatif baru dalam pengelolaan pendidikan yang lebih menekankan kepada kemandirian dan kreativitas sekolah. Konsep ini diperkenalkan oleh teori effektife school yang lebih memfokuskan diri pada perbaikan proses pendidikan.[10] Konsep pengelolaan ini menekankan  kepada kemandirian dan kreativitas sekolah di dalam mengolah potensi sumber daya pendidikan melalui kerja sama dengan pemerintah dan masyarakat di dalam pengambilan keputusan untuk memenuhi tujuan peningkatan mutu sekolah. Untuk itu sekolah harus mampu menterjemahkan dan menangkap esensi kebijakan makro pendidikan serta memahami kondisi lingkungannya (kelebihan dan kekurangannya) untuk kemudian melalui proses perencanaan, sekolah harus memformulasikannya ke dalam kebijakan mikro dalam bentuk program-program prioritas yang harus dilaksanakan dan dievaluasi oleh sekolah sesuai dengan visi dan misinya masing-masing. Jadi sekolah harus menentukan target mutu (dalam arti luas) yang ingin dicapai untuk setiap kurun waktu, merencanakannya, melaksanakan dan mengevaluasi dirinya, untuk kemudian menentukan target mutu untuk tahun berikutnya.[11]


F. MANAGEMEN DALAM PELAKSANAAN MPMBS DI MTs
Secara umum, Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah (MPMBS) dapat diartikan sebagai model manajemen yang memberikan otonomi lebih besar kepada sekolah, memberikan fleksibelitas atau keluwesan besar kepada sekolah dan mendorong partisipasi secara langsung antar warga sekolah dan masyarakat untuk meningkatkan mutu sekolah berdasar kebijakan-kebijakan nasional serta peraturan perundangan yang berlaku (Depiknas, 2002) MPMBS merupakan bagian dari manajemen berbasis sekolah[12]. Istilah managemen berbasis sekolah merupakan terjemah dari  school-based management”. Istilah ini pertama kali muncul di Amerika Serikat. MBS merupakan paradigma baru pendidikan, yang memberikan otonomi luas pada tingkat sekolah (perlibatan masyarakat).
Salah satu issue penting tentang pendidikan saat ini berkenaan dengan penerapan Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah (MPMBS). Managemen berbasis sekolah merupakan salah satu upaya pemerintah untuk mencapai keunggulan masyarakat bangsa dalam penguasaan ilmu dan teknologi.[13] Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah merupakan bagian dari manajemen berbasis sekolah (MBS). Jika MBS bertujuan untuk meningkatkan semua kinerja sekolah (efektifitas, kualitas/mutu, efisiensi, inovasi, relevansi, dan pemerataan serta akses pendidikan), maka manajemen peningkatan mutu berbasis sekolah (MPMBS) lebih difokuskan pada peningkatan mutu (Depdiknas, 2002:3). [14]



Tahap-tahap pelaksanaan MPMBS berikut ditulis dengan tujuan untuk  :
1.      Membantu unsur-unsur penyelenggara pendidikan, terutama sekolah, agar penyelenggara MPMBS dapat dilaksankan secara efektif dan efesien.
2.      Membantu sekolah-sekolah yang menerapkan MPMBS dalam menyusun  rencana dan program-programnya untuk mendapatkan dukungan biaya dari pihak-pihak yang kompeten, dan
3.      Melakukan uji coba tentang pelaksanaan konsep MPMBS, sehingga diharapkan diperoleh masukan-masukan yang konstruktif bagi penyempurnaan konsep dan pelaksanaan MPMBS di masa yang akan datang.[15]


G. MANAJEMEN TATALAKSANA SEKOLAH (KETATAUSAHAAN)
Beberapa kegiatan dari tatalaksana sekolah (ketatausahaan sekolah) yang terpenting adalah :
A.Surat Dinas Sekolah Dan Buku Agenda
Semua surat menyurat dalam kepentingan kehidupan dan realisasi program sekolah dapat kita sebut surat dinas.baik surat masuk atau keluar harus diinventarisasi dan didokumentasikan(dicatat) disertai arsip-arsipnya.
Hal-hal yang perlu dicatat dalam agenda surat masuk adalah :
1.         Nomor urut surat
2.         Tanggal diterima
3.         Tanggal dan nomor surat yang diterima
4.         Pihak pengirim/instansi
5.         Pokok isi surat
6.         Keterangan.
Dalam agenda surat keluar yang perlu dicatat adalah :
a)         Nomor urut surat
b)         Tanggal surat keluar (pengiriman)
c)         Alamat surat/kepada siapa
d)         Pokok isi surat
e)         Keterangan.
B.         Buku ekspedisi
Guna buku ekspedisi adalah untuk pembuktian bahwa suatu surat yang dikirimkan sudah sampai kepada alamatnya atau orang (petugas) yang diserahi tanggung jawab .
Yang perlu dicatat dalam buku ekspedisi adalah :
a.          Nomor surat
b.         Alamat yang dituju
c.          Tanggal penerimaan
d.         Tanda tangan dan nama terang penerima.
C.Buku catatan rapat sekolah (notulen)
Rapat sekolah atau rapat guru perlu dicatat baik prosesnya maupun hasil keputusan yang diambil. menurut sifatnya rapat itu mungkin bersifat rutin dan mungkin insidental. Pencatatan proses dan keputusan rapat menggunakan sebuah buku yang disebut buku notulen (buku catat rapat).
D.Buku pengumuman
Buku pengumuman dimaksudkan untuk media penyampaian informasi (pemberitahuan) yang terutama ditunjukkan kepada para guru,tentu saja informasi dari kepala sekolah. Lain halnya jika pengumuman itu ditujukan kepada murid dapat digunakan papan pengumuman.
E.Pemeliharaan gedung (bangunan sekolah)
Pada dasarnya tugas pemeliharaan gedung sekolah, dan lain-lain yang termasuk sarana prasarana pendidikan adalah menjadi tanggung jawab kepala sekolah. Dalam pelaksanaannya kepala sekolah mempercayakan kepada karyawan atau pegawai yang ditunjuk untuk memeliharanya. Pemeliharaan itu perlu adanya pemeriksaan bangunan prasarana secara rutin dan apabila ada kerusakan harus segera diperbaiki jangan sampai keadaan terlanjur parah. 
F.Pemeliharaan halaman sekolah
Biasanya tiap sekolah mempunyai seorang atau dua orang tukang kebun yang berstatus sebagai pegawai negeri. Tenaga inilah yang mestinya diserahi tugas untuk pemeliharaan halaman sekolah itu, disamping tugas serabutan yang lain termasuk memelihara bangunan.
G.Pemeliharaan perlengkapan sekolah
Pemeliharaan atau perawatan perlengkapan sekolah agar selalu dapat berfungsi untuk membantu proses pendidikan biar berjalan lancar. Karena itu seluruh perlengkapan tersebut perlu diperiksa baik secara periodik maupun insidental agar selalu dapat diketahui tentang keadaannya
H.Kegiatan manajemen yang didindingkan
Yang dimaksud dengan kegiatan ini adalah kegiatan pencatatan atau pendataan yang kemudian hasil pencatatan tersebut dipasang atau ditempel pada dinding kelas maupun dinding kantor guru atau kantor tatausaha sekolah.


APA SICH MAKNA HIDUP BUAT LOE????????


Orang hidup itu ibarat bermain, terkadang menang, tapi dalam suatu waktu dia juga harus siap buat kalah. Begitu juga dengan dengan kehidupan ini, kadang ia indah, membahagiakan, penuh tawa tapi kadang juga ia begitu menyakitkan, laksana pedang yang menhujam jantung kita, rasanya perih dan amat menyakitkan. Setiap orang dalam hidupnya pasti memiliki masalah, dan masing-masing memiliki banyak cara untuk mengekspresikannya, ada yang memilih untuk share kepada teman, sahabat, orang tua atau pacar. Tapi ada juga yang lebih memilih untuk menyimpannya seorang diri. Tinggal loe mikir dech, loe masuk dalam kategori yang mana? Memang sih kegagalan dalam kehidupan itu adalah yang yang sangat wajar , karena justru dari kegagalan itulah kita bisa memaknai apa  arti dari sebuah kesuksesan itu sesungguhnya, dan bisa membuat kita lebih bijak dan dewasa. Belajar untuk memaknai arti sebuah kehidupan, belajar untuk mengenal apa arti sebuah perjuangan.
Setiap orang pasti memiliki pandangan yang berbeda dalam mengahadapi setiap persoalan yang menerpa dalam hidupnya. kalau gue sendiri sih lebih condong pada tipekel orang yang memilih untuk diam dan menyimpan masalah itu seorang diri, karena buat gue masalah itu bukan hal yang perlu di blow up ke public, karena setiap orang juga pasti memiliki masalah koq, bukan Cuma kita. So, belajar untuk menyelesaikannya sendiri buat gue itu lebih bisa mendewasakan hati dan pikiran kita. Dan buat gue setiap orang yang kita ajak share itu juga belum tentu bisa ngasih solusi buat masalah kita, malah terkadang justru membuat kita tambah bingung..hmmmm....tapi juga nggak selamanya cih diam itu lebih baik. Kadang juga berbicara sama orang itu bisa meringankan beban pikiran kita. ukey guys tinggal loe semua dech memaknai masalah dalam hidup itu seperti apa, loe lebih memilih buat jadi pribadi yang introvert atau ekstrovert?? bebas koq nggak akan ada yang nyalahin kalian pokoknya disini...
Share disini ya guys.... i’m wait your argument here....
Thank’s for all ... 

salam asyik  dari gue.......

                                                                  

Perkembangan Teologi Dalam Islam


 I.         Pendahuluan
Islam merupakan agama yang mempunyai peradaban ilmu paling maju dan banyak memberikan kontribusi kepada perkembangan ilmu pengetahuan yang ada di barat.Dalam khazanah ilmu pengetahuan Islam sendiri, terdapat banyak macam bidang ilmu yang merupakan produk asli agama Islam. Di antara bidang-bidang ilmu tersebut adalah ilmu kalam atau istilah lain adalah teologi.
Seperti yang telah diketahui bahwa teologi membahas tentang dasar-dasar agama.Setiap orang yang ingin menyelami seluk-beluk agamanya secara mendalam, perlu mempelajari teologi yang terdapat dalam agama yang dianutnya. Mempelajari teologi akan memberi seseorang keyakinan-keyakinan yang berdasarkan pada landasan kuat, yang tidak mudah diumbang-ambing oleh peredaran zaman.Dari itu menyebabkan perbedaan pandangan dalam persoalan teologi yang terjadi di kalangan umat Islam saat ini. Persoalan-persoalan yang terjadi dalam lapangan politik pada waktu kepemimpinan Ali bin Abi Thalib yang akhirnya membawa kepada timbulnya persoalan-persoalan teologi. Timbullah persoalan siapa yang kafir dan siapa yang bukan kafir dalam arti siapa yang telah ke luar dari Islam dan siapa yang masih tetap dalam Islam.Persoalan ini menimbulkan aliran-aliran teologi dalam Islam.
Maka dari itu dalam makalah ini akan dibahas tentang perkembangan teologi dalam islam sebagai berikut:

II.         Permasalahan
Dari uraian di atas dapat ditarik permasalahan sebagai berikut:
1.   Bagaimana pengertian teologi Islam?
2.   Bagaimana sejarah dan aliran-aliran teologi dalamIslam?





III.         Pembahasan
1.   Pengertian teologi Islam
Secara etimologi “Theologi“ terdiri dari kata “Theos“ artinya Tuhan, dan “Logos“  artinya Ilmu, sehingga dapat diartikan bahwa theologi adalah ilmu tentang Tuhan atau ilmu Ketuhanan.[1]
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, teologi berarti pengetahuan ketuhanan (mengenai sifat Allah, dasar kepercayaan kepada Allah dan Agama, terutama berdasar pada kitab suci ).[2]
Kata teologi merupakan istilah yang diambil dari Yunani dan terdiri dari dua kata yaitu theos yang berarti Tuhan dan logod yang berarti ilmu. Jadi teologi merupakan ilmu tentang Tuhan atau ilmu ketuhanan.Adapun pokok pembahasan yang ada dalam teologi adalah Tuhan dan segala sesuatu yang berkaitan dengan-Nya.[3]
Harun Nasution, dalam bukunya Teologi Islam,  menyebutkan  bahwa teologi adalah ilmu yang membahas mengenai ajaran-ajaran dasar dari sesuatu agama. Dalam istilah arab, ajaran-ajaran dasar itu disebut ushul al-din. Teologi dalam Islam disebut juga  Ilm Tauhid. Kata Tauhid mengandung arti satu atau  esa dan keesaan dalam pandangan Islam, merupakan sifat terpenting diantara sifat-sifat Tuhan. Teologi dalam Islam disebut juga ilmu kalam, karena kaum teolog dalam Islam bersilat dengan kata-kata dalam mempertahankan pendapat dan pendirian masing-masing.[4]
Berdasarkan beberapa pengertian diatas, dapat kita pahami bahwa teologi dalam Islam adalah ilmu pengetahuan yang membahas tentang dasar-dasar agama Islam, keesaan Allah beserta sifat-sifatnya. Seorang muslim yang mempelajari teologi Islam diharapkan akan memahami dasar-dasar Islam secara lebih mendalam dan lebih mengerti tentang keesaan Allah beserta sifat-sifat-Nya.
2.   Sejarah dan aliran-aliran teologi dalam Islam
Selama di Makkah Nabi Muhammad hanya mempunyai fungsi kepala agama, dan tak mempunyai fungsi kepala pemerintahan, karena kekuasaan politik yang ada di sana belum dapat dijatuhkan. Di Madinah sebaliknya, Nabi Muhammad, di samping menjadikan kepala agama juga menjadi kepala pemerintahan. Beliaulah yang mendirikan kekuasaan politik yang dipatuhi di kota ini. Sebelum itu di Madinah taka da kekuasaan politik. Ketika beliau wafat di tahun 632-M daerah kekuasaan Madinah bukan hanya terbatas pada kota itu saja, tetapi boleh dikatakan meliputi seluruh Semenanjung Arabia.
Jadi mengherankan kalau masyarakat Madinah pada waktu wafatnya Nabi Muhammad sibuk memikirkan pengganti beliau untuk mengepalai Negara yang baru lahir itu, sehingga penguburan Nabi merupakan soal ke dua bagi mereka.Maka dari itu timbullah soal khilafah, soal pengganti nabi sebagai kepala Negara.
Kemudian digantikan oleh Abu Bakar yang mengepalai Negara mereka. Kemudian digantikan oleh Umar bin Khattab, kemudian Utsman bin Affan. Setelah Utsman wafat, Ali sebagai calon terkuat, menjadi Khalifah yang ke empat.Sikap Ali yang menerima tipu muslihat Amr al-As dari pihak Muawiyah untuk mengadakan arbitrase, sungguhpun dalam keadaan terpaksa, tidak disetujui oleh sebagian dari tentaranya. Mereka memandang Ali bin Abi Thalib telah berbuat salah, dan oleh karena itu mereka meninggalkan barisannya. Golongan mereka inilah dalam sejarah Islam terkenal dengan nama al-Khawarij, yaitu orang yang keluar dan memisahkan diri atau seceders.
Lambat laun Khawarij pecah menjadi beberapa sekte.Konsep kafir turut pula mengalami perubahan.Yang dipandang kafir bukan lagi hanya orang yang tidak menentukan hukum dengan al-Qur’an, tetapi orang yang berbuat dosa besar.Persoalan orang berbuat dosa inilah kemudian yang mempunyai pengaruh besar dalam pertumbuhan teologi selanjutnya dalam Islam.Yang kemudian menimbulkan tiga aliran teologi dalam Islam yaitu Khawarij, Murji’ah, Mu’tazilah.[5]
1)      Khawarij
Kata Khawarij berasal dari bahasa Arab yang berarti keluar.Nama itu diberikan kepada mereka, karena mereka keluar dari barisan Ali. Kaum Khawarij pada umumnya terdiri dari orang-orang arab badawi. Hidup di padang pasir yang serba tandus membuat mereka bersifat sederhana dalam cara hidup dan pemikiran, tetapi keras hati dan berani, dan bersikap merdeka tidak bergantung pada orang lain. Sebagai orang badawi mereka tetap jau dari ilmu pengetahuan.Ajaran-ajaran Islam yang terdapat dalam al-Qur’an dan Hadits, mereka artikan menurut lafadznya dan harus dilaksanakan sepenuhnya.[6]
Ajaran ini berpendapat bahwa orang yang berdosa besar tidak orang Islam lagi, tetapi keluar dari Islam dan menjadi kafir.[7]
Dalam perkembangan selanjutnya, persoalan politik ini melebar ke arah persoalan aqidah dimana kaum khawarij meyakini hal-hal sebagai berikut :
a.       Bahwa Sayidina Ali, Khalifah Ustman dan orang-orang yang turut dalam peperangan jamal seperti Siti Aisyah, Thalhah dan Zubeir, dan orang-orang yang melakukan tahkim, yakni Amr bin al-‘Ash dan Abu Musa al-Asy’ari adalah orang-orang kafir.
b.      Semua orang muslim yang melakukan dosa besar adalah kafir yang kekal dalam neraka jika tidak bertobat sebelum mati.
c.       Wajib memisahkan diri dari khalifah atau sulthan yang zalim atau khianat.[8]

2)      Murji’ah
Tokoh utama aliran murji’ah ialah Hasan bin Bilal Muzni, Abu Sallat Samman, dan Diror bin Umar. Aliran ini timbul di damaskus pada akhir abad pertama Hijrah.Dinamai murjiah karena memiliki arti menunda atau mengembalikan.Mereka berpendapat bahwa orang-orang yang sudah mukmin yang berbuat dosa besar hingga matinya tidak juga taubat orang itu belum dapat kita hukum sekarang.Terserah atau ditunda serta dikembalikan saja urusannya kepada Allah kelak setelah hari kiamat. Sebagian dari ajaran-ajarannya adalah tidak akan memberi bekas dan memudaratkan perbuatan maksiat itu terhadap keimanan. Demikian juga kebalikannya tidaklah akan memberi manfaat dan memberi faedahketaatan seseorang terhadap kekafirannya. Yang artinya tidaklah akan berguna dan tidaklah akan diberi pahala perbuatan baik yang dilakukan oleh orang yang kafir.
Dari sebab itu golongan ini sekali-kali tidaklah mau mengkafirkan seseorang yang telah Islam, sekalipun bagaimana besarnya maksiat yang diperbuatnya, asal ia menganut agama Islam dan mengucapkan dua kalimat syahadat. Perbuatan maksiat dan dosa-dosa yang dikerjakannya itu terserah hukumnya kepada Allah SWT.[9]
Pada umumnya kaum murjiah dapat dibagi dalam dua golongan besar, golongan moderat dan golongan ekstrim. Golongan moderat (al-Hasan Ibn Muhammad Ibn Ali Ibn Abi Thalib, Abu Hanifah, Abu Yusuf dan beberapa ahli hadits) berpendapat bahwa orang yang berdosa besar bukanlah kafir dan tidak kekal dalam neraka, tetapi akan dihukum dalam neraka sesuai dengan besarnya dosa yang dilakukannya, dan ada kemungkinan Tuhan akan mengampuni dosanya dan oleh karena itu tidak akan masuk neraka sama sekali. Sedangkan golongan yang ekstrim (al-Jahmiah pengikut-pengikut Jahm Ibn Safwan) berpendapat bahwa orang islam yang percaya pada Tuhan dan menyatakan kekufuran secara lisan tidaklah mennjadi kafir, karena iman dan kafir tempatnya hanya dalam hati, bukan dalam bagian yang lain dari tubuh manusia.[10]
3)      Mu’tazilah
Pendiri Aliran Mu’tazilah adalah Wasil ibnu ‘Ata.Ia adalah syekh Al Mu’tazilah Wa Qadimuha, yaitu kepala Mu’tazilah yang tertua. Ia lahir di tahun 81H di Madinah dan Meninggal tahun 131H. di sana ia belajar pada Abu Hasyim Abdullah Ibn Muhammad Ibn Al Hanafiyyah, kemudian pindah ke Basrah dan belajar pada Hasan Al Basri.
Nama mu’tazilah diberikan pertama kali pada Washil bin ‘Ata yang berpendapat bahwa orang yang berdosa besar bukanlah mukmin dan bukan pula kafir, tetapi mengambil posisi diantara keduanya, tidak mukmin dan tidak kafir.
Ajaranyang dibawa wasil tentulah paham al manzilah ba’in al manzilatain, posisi diantara dua posisi dalam arti posisi menengah.Menurut ajaran ini orang yang berdosa besar bukan kafir, sebagai disebut kaum khawarij, dan bukan pula mukmin sebagai dikatakan murji’ah, tetapi fasiq yang menduduki posisi diantara posisi mukmin dan posisi kafir. Kata mukmin dalam pendapat washil, merupakan sifat baik dan nama pujian yang tak dapat diberikan kepada fasiq, dengan dosa besarnya. Tetapi predikat kafir tak pula dapat diberikan kepadanya, karena dibalik dosa besar, ia masih mengucapkan syahadat dan mengerjakan perbuatan-perbuatan baik. Orang serupa ini kalau meninggal dunia tanpa taubat, akan kekal dalam neraka, hanya siksaan yang diterimanya lebih ringan dari siksaan yang diterima kafir.
Golongan ini mempunyai lima ajaran, yang terkenal dengan istilah lima prinsip (أصول الخمسة), yaitu :
a.       Tauhid (Keesaan Tuhan), yakni pengakuan bahwa tidak ada Tuhan selain Allah, seperti yang telah digariskan dalam kalimah tauhid.
b.      Al-‘Adlu (keadilan Tuhan), yakni Allah wajib membalas orang mukmin yang taqwa dengan memasukkan mereka ke dalam surga dan wajib memasukkan orang kafir ke dalam neraka.
c.       Al-Manzilah bain al-Manzilatain (suatu tempat antara dua tempat), yakni pelaku dosa besar bukan orang mukmin yang mutlak dan juga bukan orang kafir yang mutlak.
d.      Al-Wa’du wa al-wa’id (janji baik dan janji buruk), yakni Allah wajib memberikan pahala kepada orang mukmin yang taat dan memberikan balasan siksa kepada orang mukmin yang durhaka. Golongan mu’tazilah menolak adanya syafaat yang diberikan kepada orang mukmin yang durhaka.
e.       Amar makruf dan nahi munkar, yakni menyuruh yang makruf dan melarang yang mungkar.[11]

Selain ketiga Aliran di atas, timbul pula dua aliran teologi Islam yang terkenal dengan nama Jabbariyah, Qadariyah dan Ahlus Sunnah Wal Jamaah.
4)      Jabariyah
Paham ini diajarkan dan dikembangkan oleh Jaham bin Safwan yang memperoleh banyak pengikut, sehingga ajaran ini juga dikenal dengan madzhab Jahamiyah. Golongan ini menganut paham bahwa manusia tidak mempunyai ikhtiar atau pilihan dan kebebasan dalam menentukan nasib dan perbuatannya dalam kehidupan di dunia ini.Segala sesuatu telah digariskan Allah atasnya sejak zaman azali.[12]
Nama Jabariyah berasal dari kata jabara  yang mengadung arti memaksa. Dalam istilah inggris paham ini disebut fatalism atau predestination.Perbuatan-perbuatan manusia telah ditentukan dari semula oleh qada’ dan qadar Tuhan.[13]
Adapun pendapat yang lain dari golongan ini antara lain :
a.       Pengggunaan takwil, artinya Allah tidak dapat disifati dengan sifat-sifat makhluk. Dan karena itu ia menakwilkan sifat-sifat Allah yang ada persamaannya dengan sifat manusia.
b.      Surga dan neraka tidak kekal, akan datang suatu masa yang padanya surga dan neraka akan fana dengan segala isinya dan yang tinggal kekal hanya Allah saja. Selain dari Allah, semuanya akan binasa.
c.       Iman, Iman itu adalah makrifah atau pengakuan hati saja akan wujud Allah dan kerasulan Muhammad SAW, Ucapan lisan dan perbuatan anggota badan yang lain tidak termasuk dalam iman.
d.      Makrifat iman itu wajib berdasarkan akal sebelum turunnya wahyu dan kedatangan rasul.[14]
5)      Qadariyah
Pemuka mazhab ini adalah Ghailan al-Dimasqi, Golongan ini disebut Qadariyah adalah karena pendapatnya tentang kedudukan manusia diatas bumi. Golongan ini mengatakan bahwa manusia mempunyai iradah yang bebas dan kuasa  penuh dalam menentukan amal perbuatan yang dilakukan dan karenanya ia bertanggung jawab atas segala perbuatan yang dilakukan. Jika amalnya baik, balasannya juga baik, dan jika buruk, maka balasannya juga buruk.Artinya nasib manusia ditentukan oleh manusia sendiri dan Tuhan tidak ada kuasa campur tangan dalam hal tersebut.
Selain hal tersebut diatas, golongan ini juga mengatakan hal-hal sebagai berikut :
a.       Menafikan sifat-sifat Allah, karena menurutnya sifat itu identik dengan dzat, bukan sesuatu yang berbeda dengan dzat.
b.      Menafikan bahwa al-Qur’an itu qadim
c.       Tentang politik, khalifah atau imam boleh dilantik dari selain kaum quraisy.[15]

6)      Ahli Sunnah Dan Jama’ah
Yang dimaksud dengan al-sunnah (السنة) ialah :
a)      Jalan. Artinya Ahlussunnah (أهل السنة ) adalah golongan yang mengikuti jalan para sahabat dan tabiin dalam masalah yang berkaitan dengan akidah, seperti bersikap “menyerahkan makna atau maksud ayat-ayat mutasyabihat ( متشابهات ) kepada Allah tanpa menakwilkan kepada makna atau maksud lain dari pengertian lahirnya”.
b)      Hadis Nabi yakni golongan yang berpegang kepada hadis yang sahih.Sedangkan yang dimaksud dengan jamaah (جماعة )yang dikaitkan dengan sunah adalah karena mereka dalam berdalil dan berhujah mempergunakan Kitab Allah, Sunah Rasul, ijma (إجماع) dan qias (قياس). Mereka memandang empat landasan ini sebagai asas syariat Islam.[16]
Aliran ini dulunya dikenal sebagai Aliran Asy’ariah dan Maturidiyah.Aliran Al Asy’ariah dipimpin oleh Abu Al Hasan Ali Ibn Ismail Al Asy’ari lahir di basrah di tahun 873M dan Wafat di Baghdad pada tahun 935M.Aliran Al Asy’ari menentang paham keadilah tuhan yang dibawa kaum mu’tazilah.Menurut pendapatnya tuhan berkuasa mutlak dan takada sesuatupun yang wajib baginya. Tuhan berbuat sekehendaknya, sehingga kalau ia memasukkan seluruh manusia ke dalam surga bukanlah ia bersifat tidak adil dan jika ia memasukkan seluruh manusia ke dalam neraka tidaklah ia bersifat dzalim.
Mazhab Ahlussunnah wal Jamaah mendapat pengaruh besar dalam kalangan umat Islam setelah Abu Hasan al-Asy’ari bergabung dengannya.Sebelum itu beliau adalah penganut Mazhab Mu’tazilah dan murid Abu Ali al-Jabaiy, seorang pemuka Mu’tazilah yang terkenal pada waktu itu.Banyak riwayat yang menyebutkan sebab keluarnya dari paham Mu’tazilah dan yang paling masyhur adalah karena suatu diskusi yang terjadi dengan gurunya dan al-Asy’ari tidak merasa puas dengan jawaban gurunya.Sejak saat itu al-Asy’ari menyatakan keluar dari golongan Mu’tazilah dan mendirikan aliran baru yang identik dengan namanya yaitu al-Asy’ari yang sekarang kita kenal dengan aliran Ahlussunah wal Jamaah.
Sedangkan Aliran Maturidiyah dipimpin oleh Abu Mansur Muhammad Ibn Muhammad Ibn Mahmud Al Maturidi Lahir di Samarkhand pada pertengahan Kedua dari Abad  kesembilan Masehi dan meninggal di Tahun 944M. Sebagai pengikut Abu Hanifah yang banyak memakai Rasio dalam pandangan Keagamaannya, Al Maturidi banyak Pula memakai Akal dalam sistem Teologinya.Oleh karena itu antara teologinya dan teologi yang ditimbulkan oleh Al Asy’ari terdapat perbedaan, sungguhpun keduanya timbul sebagai Reaksi terhadap Aliran Mu’tazilah.[17]

IV.         Kesimpulan
Teologi dalam islam adalah ilmu pengetahuan yang membahas tentang dasar-dasar agama Islam, keesaan Allah beserta sifat-sifatnya. Seorang muslim yang mempelajari teologi islam diharapkan akan memahami dasar-dasar islam secara lebih mendalam dan lebih mengerti tentang keesaan Allah beserta sifat-sifat-Nya.
Aliran-aliran teologi dalam Islam yaitu sebagai berikut:
1.      Khawarij (orang-orang yang keluar dari golongan Ali ibn Abi Thalib)
2.      Murji’ah (Hasan bin Bilal Muzni, Abu Sallat Samman, dan Diror bin Umar)
3.      Mu’tazilah (Wasil ibnu ‘Ata)
4.      Jabariyah (Jaham bin Safwan)
5.      Qodariyah(Ghailan al-Dimasqi)
6.       Ahlu Sunnah wal Jamaah (Abu Al Hasan Ali Ibn Ismail Al Asy’ari  dAbu Mansur Muhammad Ibn Muhammad Ibn Mahmud Al Maturidi)












Daftar Pustaka
Ahmad Daudy, Kuliah Ilmu Kalam, PT Bulan Bintang, Jakarta, 1997
Hanafi, Pengantar Teologi Islam, Pustaka al-Husna, Jakarta, 1980
Harun Nasution, Teologi Islam : Aliran-Aliran Sejarah Analisa Perbandingan, UI-Press, Jakarta, 1986
Kamus Besar Bahasa Indonesia, PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 2008, cet. keempat
Taib Thahir Abdul Mu’in, Ilmu Kalam, Widjaya, Jakarta, 1997
Ibnuhazm57.blogspot.com/201103/teologi+islam+dan+problem+ketuhanan+di+zaman+modern diunduh pada tanggal 13-Mei-2013
SalwinsahSMATT.wordpress.com/artikel/kisa diunduh pada tanggal 13-Mei-2013