RANCANGAN PEMBELAJARAN MATERI FIQH MTs KELAS VII

BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang Masalah
Pendidikan merupakan kegiatan yang disengaja untuk mengubah sikap dan tingkah laku seseorang atau sekelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia. Dalam upayanya mencapai tujuan, diperlukan sebuah situasi belajar mengajar yang menarik dan menyenangkan. Situasi atau lingkungan belajar yang mendukung dapat diciptakan agar proses belajar ini dapat berlangsung optimal. Proses menciptakan lingkungan belajar sedemikian rupa tersebut disebut pembelajaran. Menurut Hamalik, pembelajaran diartikan sebagai proses komunikasi yang bersifat timbal balik, baik antara guru dengan siswa, maupun antara siswa dengan siswa.[1] Dari pengertian tersebut, dapat disimpulkan bahwa pembelajaran merupakan suatu keadaan untuk menciptakan situasi yang mampu merangsang peserta didik untuk belajar yang di dalamnya terdapat proses komunikasi. Proses komunikasi ini tidak hanya sebatas pemberian materi dari guru kepada peserta didik, tetapi dapat dengan cara lain. Misalnya saja melalui media pembelajaran yang sudah disiapkan.
Berbagai problem pendidikan banyak bermunculan baik itu dalam masalah fisik maupun nonfisik. Dari segi fisik misalnya mengenai masalah bangunan dan sarana prasarana, sedangkan segi nonfisik meliputi guru dan peserta didik. Guru sebagai kunci dalam proses menciptakan situasi belajar yang menarik dan menyenangkan agar tujuan yang diharapkan dapat tercapai, harus berusaha menciptakan suasana belajar yang memungkinkan terjadinya pengalaman belajar pada diri peserta didik. Dengan mengerahkan segala sumber belajar dan menggunakan berbagai strategi belajar mengajar yang tepat.
Strategi pembelajaran adalah pola umum perbuatan guru dan murid di dalam perwujudan kegiatan belajar mengajar. Pengertian strategi ini menunjuk kepada karakteristik abstrak dari rentetan perbuatan guru dan murid di dalam peristiwa belajar mengajar.[2] Jadi secara garis besar, strategi pembelajaran ini adalah prosedur atau tahapan kegiatan yang disusun dan digunakan oleh guru dalam rangka membantu peserta didik mencapai tujuan pembelajaran tertentu. Penggunaan metode mengajar dan juga media pengajaran termasuk ke dalam strategi belajar mengajar yang telah dirancang oleh pendidik.
Kehidupan manusia mencakup segala aspek. Kebahagiaan yang ingin dicapai manusia mengharuskannya untuk memperhatikan segala aspek dengan cara yang terpogram dan teratur. Fiqih Islam adalah pengetahuan tentang hukum-hukum yang Allah  syari’atkan kepada para hamba-Nya, demi mengayomi seluruh kemaslahatan mereka dan mencegah timbulnya kerusakan ditengah-tengah mereka, maka fiqih Islam datang memperhatikan aspek tersebut dan mengatur seluruh kebutuhan manusia beserta hukum-hukumnya.[3]
Pemahaman tentang fiqih merupakan suatu pemahaman yang sangat penting untuk ditanamkan bagi setiap peserta didik, sebab tanpa adanya pemahaman tentang fiqih, maka yang dikhawatirkan adalah akan tidak diterimanya amal ibadahnya karena kurangnya penguasaan hukum yang dijelaskan dalam kajian fiqih, sehingga di sinilah diperlukan metode pengajaran yang benar-benar dapat memberi pemahaman secara total terhadap peserta didik.
Pembelajaran fiqih yang merupakan bagian dari mata pelajaran Pendidikan Agama Islam yang diarahkan untuk menyiapkan peserta didik untuk mengenal, menghayati, dan mengamalkan hukum Islam dalam praktek kesehariannya melalui kegiatan bimbingan, pengajaran, latihan, keteladanan, penggunaan pengalaman, dan pembiasaan. Tetapi, di lapangan, pendidikan fiqih ini mengalami beberapa kendala, diantaranya yaitu waktu yang disediakan terbatas dengan muatan materi yang begitu padat dan pentingyang menuntut pemahaman hingga terbentuk watak dan kepribadian. Selain itu, materi fiqih lebih terfokus pada pengayaan pengetahuan dan minim dalam pembentukan sikap dan pembiasaan. Juga kurangnya keikutsertaan guru mata pelajaran lain dalam member motivasi kepada peserta didik untuk mempraktikkan nilai-nilai fiqih dalam kehidupan sehari-hari, serta lemahnya guru dalam pengembangan pendekatan dan metode yang lebih variatif.
Dalam pelajaran fiqih yang memang memerlukan internalisasi materi pelajaran ke dalam diri peserta didik, pendidik dituntut bagaimana caranya agar materi yang diajarkan dapat teraktualisasi dalam kehidupan peserta didik. Bagaimana materi tersebut agar dapat diterima peserta didik sehingga peserta didik mampu mencapai tujuan yang diinginkan. Oleh karenanya diperlukan strategi belajar mengajar yang tepat yang memanfaatkan segala komponen yang ada secara maksimal. Dalam makalah ini akan dibahas mengenai rancangan pembelajaran materi fiqih di MTs kelas VII.
B.     Rumusan Masalah
Dari uraian diatas, adapun beberapa rumusan masalah yang akan dibahas dalam makalah ini adalah sebagai berikut.
1.      Apa yang dimaksud dengan metode ceramah, tanya jawab, diskusi, praktikum, demonstarasi, dan resitasi?
2.      Metode apa yang tepat untuk diterapkan dalam pembelajaran fiqih MTs kelas VII?
3.       Bagaimana contoh rancangan pembelajaran materi fiqih di MTS kelas VII?

C.     Tujuan Penulisan Makalah
Penulisan makalah ini bertujuan untuk:
1.      Memahami definisi metode ceramah, tanya jawab, diskusi, praktikum, demonstrasi dan resitasi.
2.      Mengerti metode yang cocok dan tepat digunakan untuk pembelajaran fiqih MTs kelas VII.
3.      Memahami aplikasi metode ceramah, tanya jawab, diskusi, praktikum, demonstrasi dan resitasi dalam proses pembelajaran fiqih MTs kelas VII.

D.    Manfaat Penulisan Makalah
1.      Manfaat Teoritis
Makalah ini diharapkan dapat memberi pengetahuan tentang metode pembelajaran dalam materi fiqih MTs kelas VII.
2.      Manfaat Praktis
a.       Bagi Guru
·      Makalah ini dapat dijadikan pedoman bagi guru sebagai salah satu sumber informasi dan bahan acuan dalam meningkatkan keberhasilan pembelajaran.
·      Mengetahui berbagai macam metode pembelajaran yang mungkin untuk diterapkan sehingga dapat memilih metode-metode tersebut untuk selanjutnya diaplikasikan dalam proses pembelajaran.
·      Dapat menggunakan metode yang tepat dalam proses belajar mengajar.
b.      Bagi Peserta Didik
·      Dengan adanya penggunaan metode yang tepat, maka peserta didik akan mendapat kemudahan dalam  menerima materi pada proses pembelajaran.
·      Peserta didik tidak akan jenuh dengan penggunaan metode yang bervariasi.
c.       Bagi Mahasiswa
Dapat dijadikan acuan dan bekal sehingga kelak ketika menjadi guru, dapat menerapkan metode yang tepat dalam pembelajaran.
d.      Bagi Dosen
Dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan dalam pengkajian dan penentuan bagi pemberian nilai.
e.       Bagi Institut
Dengan pengetahuan dan penggunaan metode pembelajaran yang tepat, maka akan menjadikan Institut itu lebih berkualitas dan lebih berprestasi dalam mencetak generasi bangsa.

BAB II
KAJIAN TEORI
A.    Metode Pembelajaran
Seperti yang telah disinggung sebelumnya bahwa penggunaan metode yang tepat dalam mengajar dapat membantu dalam pencapaian tujuan yang diharapkan. Sebaliknya, penggunaan metode yang tidak sesuai dengan tujuan pengajaran akan menjadi kendala dalam mencapai tujuan yang telah dirumuskan. Efektivitas penggunaan metode ini dapat terjadi bila ada kesesuaian antara metode dengan semua komponen pengajaran yang telah diprogramkan dalam satuan pelajaran. Oleh karenanya, pendidik (guru) dapat menggunakan lebih dari satu metode. Pemakaian metode yang satu digunakan untuk mencapai tujuan yang satu, sementara metode yang lain juga digunakan untuk mencapai tujuan yang lain yang telah dirumuskan. Beberapa metode mengajar yang dapat digunakan dalam pengajaran materi fiqih kelas VII MTs sebagai berikut.

1.      Metode Ceramah (lecture)
Secara umum metode ceramah diartikan suatu proses penuturan bahan pelajaran secara lisan dari pendidik kepada peserta didik. Metode ini akan lebih efektif jika digunakan dalam konteks kelompok atau orang banyak. Metode ini banyak digunakan salah satunya karena faktor kebiasaan. Selain itu juga dikarenakan metode ceramah adalah yang paling ekonomis untuk menyampaikan informasi dan yang paling efektif dalam mengatasi kelangkaan rujukan yang sesuai dengan daya beli dan paham peserta didik.
Metode ceramah merupakan cara yang digunakan untuk mengimplementasikan strategi pembelajaran yang dalam suasana kelompok besar dan target yang dicapai bersifat kognitif atau ingatan. Semua metode selalu memiliki kekurangan dan kelebihan.
Kelebihan dari metode ceramah:
1)      Ceramah merupakan metode yang murah dan mudah untuk dilakukan. Murah dalam arti proses ceramah tidak memerlukan peralatan-peralatan yang lengkap.
2)      Ceramah dapat menyajikan materi pelajaran yang luas. Karena ceramah bersifat bebas, maka materi yang disampaikan guru bisa sangat banyak.
3)      Ceramah dapat memberikan pokok-pokok materi yang perlu ditonjolkan. Guru dapat mengatur pokok-pokok materi yang perlu ditekankan sesuai dengan tujuan.
4)      Melalui ceramah, guru dapat mengontrol keadaan kelas.
Sedangkan kelemahan dari metode ceramah:
1)      Materi yang dapat dikuasai siswa sebagai hasil dari ceramah akan terbatas pada apa yang dikuasai guru.
2)      Ceramah yang tidak disertai dengan peragaan dapat mengakibatkan terjadinya verbalisme. Yaitu ketidakpahaman siswa akan materi yang disampaikan oleh guru, karena bahasa dan gaya penuturan.
3)      Guru yang kurang memiliki kemampuan bertutur yang baik, ceramah sering dianggap sebagai metode yang membosankan.
4)      Melalui ceramah, sangat sulit untuk mengetahui apakah seluruh siswa sudah mengerti apa yang dijelaskan atau belum.

2.      Metode Tanya Jawab
Metode tanya jawab adalah cara penyajian pelajaran dalam bentuk pertanyaan yang harus dijawab, terutama dari guru kepada peserta didik, tetapi dapat pila dari peserta didik kepada guru.[4]
Tujuan yang akan dicapai dari metode tanya jawab:
1)      Untuk mengetahui sampai sejauh mana materi pelajaran yang telah dikuasai oleh siswa.
2)      Untuk merangsang siswa berfikir.                                   
3)      Memberi kesempatan pada siswa untuk mengajukan masalah yang belum dipahami.

Kelebihan dari metode tanya jawab:
1)      Pertanyaan dapat menarik dan memusatkan perhatian siswa, sekalipun siswa sedang rebut, yang mengantuk kembali segar dan menghilang kantuknya.
2)      Merangsang siswa untuk melatih dan mengembangkan daya pikir, termasuk daya ingat
3)      Mengembangkan keberanian dan keterampilan siswa dalam menjawab dan mengemukakan pendapat

Kekurangan metode tanya jawab:
1)      Siswa merasa takut apalagi bila guru kurang dapat mendorong siswa untuk berani.
2)      Tidak mudah membuat pertanyaan yang sesuai dengan tingkat berpikir dan mudah dipahami siswa
3)      Waktu sering banyak terbuang, terutama apabila siswa tidak dapat menjawab pertanyaan sampai dua atau tiga orang.
4)      Dalam jumlah siswa yang banyak, tidak mungkin cukup waktu untuk memberikan pertanyaan kepada setiap siswa.
5)      Tanya jawab bisa menimbulkan penyimpangan dari pokok persoalan.

3.      Metode Praktikum
Metode praktikum dapat dilakukan kepada siswa setelah guru memberikan arahan, aba-aba, petunjuk untuk melaksanakannya. Kegiatan ini berbentuk praktik dengan mempregunakan alat-alat tertentu, dalam hal ini guru melatih keterampilan peserta didik dalam penggunaan alat-alat yang telah diberikan kepadanya.

4.      Metode Resitasi
Metode resitasi (penugasan) adalah metode penyajian bahan dimana guru memberikan tugas tertentu agar peserta didik melakukan kegiatan belajar. Masalah tugas yang dilaksanakan oleh peserta didik dapat dilakukan di dalam kelas, di halaman sekolah, di laboratorium, di perpustakaan, di bengkel, di rumah siswa, atau dimana saja asal tugas itu dapat dikerjakan. Metode ini diberikan karena dirasakan bahan pelajaran terlalu banyak sementara waktu sedikit.. resitasi tidak sama dengan pekerjaan rumah, tetapi jauh lebih luas dari itu.[5]

Metode ini memiliki kelebihan:
1)      Lebih merangsang peserta didik dalam melakukan aktivitas belajar individual ataupun kelompok.
2)      Dapat mengembangkan kemandirian peserta didik di luar pengawasan guru.
3)      Dapat membina tanggung jawab dan disiplin peserta didik.
4)      Dapat mengembangkan kreativitas peserta didik.

Beberapa kelemahan metode resitasi:
1)      Peserta didik sulit dikontrol, apakah benar ia yang mengerjakan tugas ataukah oang lain.
2)      Khusus untuk kelompok, tidak jarang yang aktif mengerjakan dan menyelesaikannya adalah anggota tertentu saja, sedangkan anggota lainnya tidak berpartisipasi dengan baik.
3)      Tidak mudah memberikan tugas yang sesuai dengan perbedaan individu peserta didik.
4)      Sering memberikan tugas yang monoton dapat menimbulkan kebosanan peserta didik.

5.      Metode Demonstrasi
Metode demonstrasi adalah cara penyajian bahan pelajaran dengan memperagakan atau mempertunjukkan kepada peserta didik suatu proses, situasi, atau benda tertentu yang sering dipelajari, baik sebenarnya ataupun tiruan, yang sering disertai dengan penjelasan lisan.[6] Dalam metode demontrasi ini, siswa dituntut memiliki kemampuan untuki memperagakan adegan atau perilaku dari obyek lain dengan harapan agar siswa memiliki kemampuan yang cepat dalam memahami dan menghayati sesuatu materi pelajaran. Peran guru dalam metode ini, harus mampu memebrikan contoh terlebih dahulu, sebelum memberikan tugas kepada siswa. Oleh sebab itu guru juga dituntut mampu memberikan informasi dan perilaku yang tepat.

Langkah-langkah penggunaan metode demonstrasi:
a)      Menetapkan topik atau materi pembelajaran yang membutuhkan praktik.
b)      Merumuskan tujuan melakukan demonstrasi.
c)      Menyiapkan bahan atau alat-alat dan tempat yang digunakan dalam demonstrasi.
d)     Menetapkan peserta didik yang membantu mendemonstrasikan materi yang sudah ditetapkan.
e)      Menyuruh peserta didik yang lain untuk untuk mengamati dan memperhatikan apa yang didemonstrasikan temannya, dan pada gilirannya disuruh ikut mencobanya.
f)       Memerintahkan kepada peserta didik untuk menanyakan apabila ada yang belum dipahami.
g)      Mengadakan pengawasan dan penilaian dari proses kegiatan demonstrasi.

Kelebihan pemakaian metode demonstrasi:
1)      Melalui metode demonstrasi terjadinya verbalisme akan dapat dihindari, sebab siswa disuruh langsung memperhatikan bahan pelajaran yang dijelaskan.
2)      Proses pembelajaran akan lebih menarik, sebab siswa tak hanya mendengar, tetapi juga melihat peristiwa yang terjadi.
3)      Dengan cara mengamati secara langsung siswa akan memiliki kesempatan untuk membandingkan antara teori dan kenyataan. Dengan demikian siswa akan lebih meyakini kebenaran materi pembelajaran.

Sedangkan kelemahan penggunaan metode demonstrasi adalah:
1)      Metode demonstrasi memerlukan persiapan yang lebih matang, sebab tanpa persiapan yang memadai demonstrasi bisa gagal sehingga dapat menyebabkan metode ini tidak efektif lagi.
2)      Demonstrasi memerlukan peralatan, bahan-bahan, dan tempat yang memadai yang berarti penggunaan metode ini memerlukan pembiayaan yang lebih mahal dibandingkan dengan ceramah.
3)      Demonstrasi memerlukan kemampuan dan keterampilan guru yang khusus, sehingga guru dituntut untuk bekerja lebih profesional.

B.     Media Pembelajaran
Kata “media” berasal dari bahasa latin dan merupakan bentuk jamak dari kata “medium”,yang secara harfiah berarti “perantara atau pengantar”.[7]

C.     Evaluasi Pembelajaran
Evaluasi secara harfiah dapat diartikan sebagai penilaian yang berorientasi kepada value. Adapun dari sisi terminologis ada beberapa definisi yang dapat dikemukakan, yakni:
1. suatu proses sistematik untuk mengetahui tingkat keberhasilan sesuatu.
2. kegiatan untuk menilai sesuatu secara terencana, sistematik dan terarah berdasarkan atas tujuan yang jelas
3. proses penentuan nilai berdasarkan data kuantitatif hasil pengukuran untuk keperluan pengambilan keputusan.

BAB III
ANALISIS
A.      Standar Kompetensi, Kompetensi Dasar, Materi, dan Metode Mengajar
Standar
Kompetensi
Kompetensi
Dasar
1.   Melaksanakan ketentuan thaharah (bersuci)
1.1    Menjelaskan macam-macam najis dan tata cara thaharahnya (bersucinya)
1.2    Menjelaskan hadast kecil dan tata cara thaharahnya (bersucinya)
1.3    Menjelaskan hadast besar dan tata cara thaharahnya
1.4    Mempraktekkan bersuci dari najis dan hadast
2. Melaksanakan tata cara shalat fardhu dan sujud sahwi
2.1    Menjelaskan tata cara shalat lima waktu
2.2    Menghafal bacaan-bacaan shalat lima waktu
2.3    Menjelaskan ketentuan waktu shalat lima waktu
2.4    Menjelaskan ketentuan sujud sahwi
2.5    Mempraktekkan shalat lima waktu dan sujud sahwi
3. Melaksanakan tata cara adzan, iqomah, dan shalat jama’ah
3.1    Menjelaskan ketentuan adzan dan iqomah
3.2    Menjelaskan ketentuan shalat berjamaah
3.3    Menjelaskan ketentuan makmum masbuk
3.4    Menjelaskan cara mengingatkan imam yang lupa
3.5    Menjelaskan cara mengingatkan imam yang batal
3.6    Mempraktekkan adzan, iqomah, dan shalat berjama’ah
4. Melaksanakan tata cara berdzikir dan berdo’a setelah shalat
4.1    Menjelaskan tata cara berdzikir dan berdo’a setelah sholat
4.2    Menghafal bacaan dzikir dan do’a setelah shalat
4.3    Mempraktekkan dzikir dan do’a
5. Melaksanakan tata cara shalat wajib selain shalat lima waktu
5.1    Menjelaskan ketentuan shalat dan khutbah Jum’at
5.2    Mempraktekkan khutbah dan shalat Jum’at
5.3    Menjelaskan ketentuan shalat jenazah
5.4    Menghafal bacaan-bacaan shalat jenazah
5.5    Mempraktekkan shalat jenazah
6. Melaksanakan tata cara shalat jama’, qashar, dan jama’ qashar
6.1    Menjelaskan ketentuan shalat jama’, qashar, dan jama’ qashar
6.2    Mempraktekkan shalat jama’, qashar, dan jama’ qashar
6.3    Menjelaskan ketentuan shalat dalam keadaan darurat ketika sedang sakit dan di kendaraan
6.4    Mempraktekkan shalat dalam keadaan darurat ketika sedang sakit dan di kendaraan
7. Melaksanakan tata cara shalat sunnah muakkad dan ghoiru muakkad
7.1    Menjelaskan ketentuan shalat sunnah muakkad
7.2    Menjelaskan macam-macam shalat sunnah muakkad
7.3    Mempraktekkan shalat sunnah muakkad
7.4    Menjelaskan ketentuan shalat sunnah ghoiru muakkad
7.5    Menjelaskan macam-macam shalat sunnah ghoiru muakkad
7.6    Mempraktekkan shalat sunnah ghoiru muakkad
Sumber: Buku Pendamping Siswa An Najah, karangan Ahmad Junaidi (Klaten: Gema Nusa, 2008) sesuai KTSP SKL dan SI 2008.

2 komentar: