CLICK HERE FOR FREE BLOGGER TEMPLATES, LINK BUTTONS AND MORE! »

Senin, 15 April 2013

PERBEDAAN ANTARA PERBANDINGAN AGAMA DENGAN FILSAFAT AGAMA DAN TEOLOGI


       I.       PENDAHULUAN
Semua agama pada hakikatnya terbentuk berdasarkan wahyu dan tafsir terhadap wahyu itu. Sistematika pengetahuan agama dibangun diatas landasan argumantasi rasional dan pangalaman keagamaan yang bersumber dari wahyu dan membentuk batang tubuh pengetahuan.
Di dunia ini terdapat bermacam-macam agama, dan untuk mempelajari bermacam-macam agama tersebut kita harus mempelajari ilmu perbandingan agama. Dimana ilmu perbandingan agama tersebut bukan untuk mencari tahu agama mana yang paling benar, akan tetapi hanya untuk mempelajari/mengetahui perbedaan antara agama satu dengan agama yang lain.
Selain mempelajari tentang perbandingan agama kita juga perlu mempelajari filsafat agama. Hal ini di karenakan dalam filsafat agama, agamalah yang menjadi objek kajiannya.selain itu kita juga perlu untuk mengkaji teologi. Hal ini di karenakan antara ilmu perbandingan agama, filsafat agama, dan teologi sama-sama mengkaji masalah ketuhanan. Meskipun sama-sama mengkaji masalah ketuhanan, pada dasarnya antara ketiganya memiliki perbedaan.
Oleh sebab itu dalam makalah ini akan di bahas lebih lanjut mengenai pengertian perbandingan agama, filsafat agama, dan teologi, dan juga membahas tentang perbedaan antara ketiganya.
    II.       RUMUSAN MASALAH
Dari pendahuluan diatas, ada beberapa permasalan yang akan dibahas dalam makalah ini, diantaranya sebagai berikut:
a)      Apa pengertian perbandingan agama, filsafat agama dan juga teologi?
b)      Bagaimana perbedaan antara perbandingan agama , filsafat agama dan teologi?
 III.       PEMBAHASAN
A.      Pengertian Perbandingan Agama, Filsafat Agama dan juga Teologi
1)        Pengertian perbandingan agama
Ada beberapa pendapat mengenai makna dari perbandingan agama, Menurut Louis H. Jordan  perbandingan agama berarti ilmu yang membandingkan asal-usul, struktur dan ciri-ciri dari berbagai agama di dunia, dengan maksud untuk menentukan persamaan-persamaan dan perbedaan-perbedaannya yang sebenarnya, sejauh mana hubungan antara satu agama dengan agama yang lain, dan superioritas dan inferioritas yang relatif apabila di anggap sebagai tipe-tipe.[1]
Sedangkan menurut Mukti Ali ilmu perbandingan agama adalah salah satu cabang ilmu pengetahuan yang berusaha untuk memahami gejala-gejala keagamaan dari suatu kepercayaan (agama) dalam hubungannya dengan agama lain.[2]
Jadi makna dari perbandingan agama menurut pemakalah adalah suatu ilmu untuk mempelajari gejala-gejala keagamaan, antara satu agama dengan agama lain, akan tetapi bukan untuk mencari mana yang paling benar.
2)        Pengertian filsafat agama
Berbicara tentang filsafat agama berarti berbicara tentang kategori umum yang mencakup pluralitas penekanan. Artinya yaitu seorang filosof dapat mencurahkan energinya pada berbagai topik yang melibatkan agama dan ia masih disebut filosof agama. 
Jadi filsafat agama adalah suatu penyelidikan yang bersifat kritis tentang agama berdasarkan makna istilah-istilah, bahan bukti, dan prinsip-prinsip verifikasi. Filsafat agama dapat diperluas  atau dibatasi tergantung pada perhatian seorang filosof, dan satu-satunya batasan universal yang berlaku adalah sebagai berikut:
a.       Mengemukakan setidak-tidaknya salah satu dari persoalan yang menyangkut tentang persoalan keagamaan.
b.      Perlu dimulai dan tetap terikat dengan klaim-klaim dari manusia (positif dan negatif) yang berkenaan dengan pengalaman tentang apa yang suci, sakral, illahi, berkekuasaan, dan bernilai puncak, dan hakekat dari wujud yang mungkin dianggap memiliki sifat-sifat tersebut.[3]
Dalam filsafat agama, agama merupakan objek dari filsafat.  Objek filsafat agama tersebut tidak hanya persoalan-persoalan ketuhanan semata, tetapi juga sampai kepada persoalan-persoalan eskatologis. Persoalan eskatologis pada umumnya berbicara tentang hari kiamat dan hal-hal yang akan dialami manusia pada waktu itu, seperti persoalan keadilan Tuhan, penerimaan pahala dan siksa. Pentingnya persoalan eskatologis sebagai objek pembahasan  filsafat agama karena eskatologislah yang mendorong  orang bersemangat orang untuk menjalankan ajaran agamanya. Tanpa ada tanggung jawab terhadap amal perbuatannya keberadaan agama menjadi kurang menarik. Hidup sesudah mati inilah yang membuat pemeluknya menjadi tertarik kepada agama. Filsafat agama sebenarnya bukanlah langkah untuk menyelesaikan persoalan agama secara tuntas. Pembahasan filsafat agama hanya bertujuan untuk mengungkapkan argumen-argumen yang mereka kemukakan dan memberikan penilaian terhadap argumen tersebut dari segi logisnya.  
Filsafat agama dimulai dari orang-orang yang beragama, dan orang-orang yang beragama membawa pengalaman-pengalaman manusiawi yang dipahami dalam kaitannya dengan konsepsi seperti yang suci, illahi, sakral, memiliki kekuasaan. Tetapi setelah muncul pengalaman dan klaim tentang konsep-konsep tersebut maka dapat dipertanyakan persoalan tentang tujuan melakukan pembuktian dan mungkin perluasan dan penghubungan, pengalaman, dan klaim itu melalui cara-cara yang menyatukan eksistensi manusia. Sejak saat itu filsafat dimulai dengan sesuatu yang telah ada, yaitu pengalaman dan klaim dari manusia tetapi kemudian filsafat memiliki sesuatu yang penting berkenaan dengan bagaimana yang telah ada itu dapat dipahami.[4]
3)        Pengertian teologi
Sulit sekali untuk mengartikan pengertian teologi secara tepat, teologi terdiri dari dua kata “theos” dan “ology”. “theos” dalam bahasa Yunani berarti Tuhan, yang berkenaan dengan ketuhanan. Sedangkan “ology” di petik dari bahasa Yunani “logos” yang berarti percakapan, penilaian, pengkajian, penelitian yang dapat di pahami melalui pembicaraan dan pemikiran manusia.[5]
Selain itu teologi juga di artikan sebagai keseluruhan pengetahuan adi kodrati yang objektif lagi kritis dan yang disusun secara metodis, sistemis dan koheren; pengetahuan ini menyangkut hal-hal yang diimani sebagai wahyu Allah atau berkaitan dengan wahyu itu.[6]
Jadi teologi menurut pemakalah adalah suatu cabang ilmu pengetahuan di mana di dalamnya berkaitan dengan tuhan, dan kebenaran di dapatkan berdasarkan wahyu dari Allah (di sesuiakan dengan agama masing-masing).
Pada masa Aquinus teologi memperluas cakupannya sehingga meliputi doktrin, etika spiritualitas, filsafat, peraturan-peraturan gereja, dan mistisisme. Pada saat itu teologi menjadi ratunya ilmu-ilmu meskipun sangat terkait dengan humanitas dan ilmu. Meskipun cakupan teologi itu luas, teologi itu sendiri berpusat pada tradisi kristen dan pada dasarnya berkaitan dengan tradisi kristen. Meskipun demikian dalam waktu yang panjang, tebuka jalan bagi munculnya teologi dari tradisi keagamaan lainnya, sehingga akhirnya muncul teologi yahudi, muslim, hindu, sikh dan seterusnya yang dapat dilihat sebagai teologi yang memiliki otentitasnya sendiri.
Adapun ciri-ciri teologi itu sendiri adalah:
a)      Selalu berkaitan denga tuhan
b)      Doktrin tetap menjadi elemen signifikan dalam memaknai teologi.
c)      Teologi sesungguhnya adalah aktifitas yang muncul dari keimanan dan penafsiran atas keimanan.[7]
B.       Perbedaan Antara Perbandingan Agama, Filsafat Agama Dan Teologi
Tema-tema pokok atau fundamental agama adalah juga merupakan objek kajian dalam teologi. Sementara, teologi adalah kajian yang sungguh-sungguh berbeda dengan filsafat agama. Untuk lebih memperjelas apa yang dimaksud dengan filsafat agama, kiranya perlu dijelaskan perbedaaan antara perbedaan perbandingan agama, filsafat agama dan teologi.
Ada beberapa Perbedaan antara perbandingan agama, filsafat agama da teologi di antaranya yaitu:
1.      Agama
Ø  Agama mempercayai akan adanya kebenaran dan khayalan dogma-dogma agama.
Ø  Perbandingan agama membahas perbandingan dari beberapa agama tetapi bukan untuk membenarkan atau menyalahkan.
Ø  Agama mendahulukan kepercayan dari pada pemikiran.
Ø  Agama adalah kebenaran yang bersumber dari wahyu Tuhan mengenai berbagai hal kehidupan manusia dengan lingkungannya.
2.      Filsafat agama
Ø  filsafat agama bermaksud menyatakan kebenaran atau ketidak benaran dasar-dasar agama.
Ø  filsafat agama tidak membahas dasar-dasar ajaran dari agama tertentu, tetapi dasar-dasar agama pada umumnya.
Ø  Filsafat mempercayakan sepenuhnya kekuatan daya pemikiran.
Ø  filsafat agama tidak terikat pada dasar-dasar agama tertentu.
3.      Teologi
Ø  teologi sudah menerima dasar ajaran agama sebagai kebenaran.
Ø  teologi membahas dasar-dasar ajaran agama tertentu. Misalnya teologi kristen, teologi muslim dsb.
Ø  Teologi berkaitan dengan tuhan dan kebenaran yang di terima berdasarkan wahyu Allah.
Ø  Teologi hanyalah sebatas upaya memberikan penjelasan atau interpretasi tentang dasar-dasar agama, atau upaya mencari legalitas rasional atas ajaran agama tertentu.[8]
 IV.       KESIMPULAN
1.      Perbandingan agama adalah ilmu yang membandingkan asal-usul, struktur dan ciri-ciri dari berbagai agama di dunia, dengan maksud untuk menentukan persamaan-persamaan dan perbedaan-perbedaannya yang sebenarnya, sejauh mana hubungan antara satu agama dengan agama yang lain, dan superioritas dan inferioritas yang relatif apabila di anggap sebagai tipe-tipe.
2.      Filsafat agama adalah suatu penyelidikan yang bersifat kritis tentang agama berdasarkan makna istilah-istilah, bahan bukti, dan prinsip-prinsip verifikasi.
3.      Teologi adalah keseluruhan pengetahuan adi kodrati yang objektif lagi kritis dan yang disusun secara metodis, sistemis dan koheren; pengetahuan ini menyangkut hal-hal yang diimani sebagai wahyu Allah atau berkaitan dengan wahyu itu.
4.      Perbedaan antara perbandingan agama, filsafat agama dan teologi yaitu:
a)      Agama
Ø  Agama mempercayai akan adanya kebenaran dan khayalan dogma-dogma agama.
Ø  Perbandingan agama membahas perbandingan dari beberapa agama tetapi bukan untuk membenarkan atau menyalahkan.
Ø  Agama mendahulukan kepercayan dari pada pemikiran.
Ø  Agama adalah kebenaran yang bersumber dari wahyu Tuhan mengenai berbagai hal kehidupan manusia dengan lingkungannya.
b)      Filsafat agama
Ø  filsafat agama bermaksud menyatakan kebenaran atau ketidak benaran dasar-dasar agama.
Ø  filsafat agama tidak membahas dasar-dasar ajaran dari agama tertentu, tetapi dasar-dasar agama pada umumnya.
Ø  Filsafat mempercayakan sepenuhnya kekuatan daya pemikiran.
Ø  filsafat agama tidak terikat pada dasar-dasar agama tertentu.
c)      Teologi
Ø  teologi sudah menerima dasar ajaran agama sebagai kebenaran.
Ø  teologi membahas dasar-dasar ajaran agama tertentu. Misalnya teologi kristen, teologi muslim dsb.
Ø  Teologi berkaitan dengan tuhan dan kebenaran yang di terima berdasarkan wahyu Allah.
Ø  Teologi hanyalah sebatas upaya memberikan penjelasan atau interpretasi tentang dasar-dasar agama, atau upaya mencari legalitas rasional atas ajaran agama tertentu.

    V.       PENUTUP
Demikian makalah tang dapat kami sampaikan. Kami selaku pemakalah sadar bahwa makalah ini tidaklah sempurna, oleh karena itu kami mengharapkan kritik dan saran yang membangun guna pembenahan kedepannya. Semoga makalah ini bermanfaat bagi pemakalah khususnya dan bagi pembaca pada umumnya.

DAFTAR PUSTAKA
Ali, Mukti, Ilmu Perbandingan Agama di Indonesia, Mizam, Bandung, 1994
Connolly, Peter, Aneka Pendekatan Studi Agama, Lkis, Yogyakarta, 2002
Nico Syukur Dister OFM, Pengantar Teologi, Kanisius, Yogyakarta, 1990
Praja, Juhaya S, filsafat dan metodologi ilmu dalam islam, Teraju, Jakarta, 2002
Roth, John K, Persoalan-Persoalan Filsafat Agama, pustaka pelajar, Yogyakarta, 2003




[1] Mukti Ali, Ilmu Perbandingan Agama di Indonesia, Mizam, Bandung, 1994, hal.14
[3] John K. Roth, Persoalan-Persoalan Filsafat Agama, Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 2003, hal. 10-11
[4] Ibid, hal. 12
[5] Juhaya S. Praja, Filsafat Dan Metodologi Ilmu Dalam Islam, Teraju, Jakarta, 2002, hal. 41-42
[6]  Nico Syukur Dister OFM, Pengantar Teologi, Kanisius, Yogyakarta, 1990, hal. 29
[7] Peter Connolly, Aneka Pendekatan Studi Agama, Lkis, Yogyakarta, 2002, hal. 318-319

0 komentar:

Poskan Komentar